Powered By Blogger

Search

Selasa, 26 April 2011

Hubungan Privasi, Ruang Personal Dan Teritorialitas Terhadap Lingkungan

A. PENGERTIAN PRIVASI
Privasi adalah tingkat interaksi atau keterbukaan yang dihendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu..
Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi privasi :
1. Faktor personal. Marshall (1987), mengatakan bahwa perbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi. Dalam penelitiannya, di temukan bahwa anak-anak tumbuh dalam suasana rumah yang sesak akan lebih memilih keadaan yang anonym dan reserve saat ia dewasa.
2. Faktor situasional adalah beberapa hasil penelitian tentang privasi dalam dunia kerja, secara umum menyimpulkan bahwa kepuasan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan dengan seberapa besar lingkungan mengizinkan orang-orang di dalamnya untuk menyendiri (Gifford, 1987)
3. Faktor budaya adalah Penemuan dari beberapa peneliti, tentang privasi dalam berbagai budaya (seperti Patterson dan Chiswick pada suku Iban di Kalimantan, Yoors pada orang Gypsy dan Geertz pada orang Jawa dan Bali) memandang bahwa pada tiap-tiap budaya tidak ditemukan adanya perbedaan dalam banyaknya privasi yang diinginkan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan privasi (Gifford, 1987)


PENGARUH PRIVASI TERHADAP PERILAKU

Maxine Wolfe dan kawan-kawan (dalam Holahan, 1982) mecatat bahwa pengelolahan hubungan interpersonal adalah pusat dari pengalaman tentang privasi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, orang yang terganggu privasinya akan merasakan keadaan yang tidak mengenakkan. Sedangkan Schwartz (dalam Holahan, 1982) menemukan bahwa kemampuan untuk menarik diri ke dalam privasi (privasi tinggi) dapat membantu membuat hidup ini lebih mengenakkan saat harus berurusan dengan orang-orang yang “sulit”. Sementara hal yang senada diungkapkan oleh westin bahwa saat-saat kita mendapatkan privasi seperti yang kita inginkan, kita dapat melakukan pelepasan emosi dari akumulasi tekanan hidup sehari-hari dan kita juga dapat melakukan evaluasi diri serta membantu kita mengembangkan dan mengelola perasaan otonomi diri. Otonomi ini meliputi perasaan bebas, kesadaran memilih dan kemerdekaan dari pengaruh orang lain.

B. RUANG PERSONAL ( SPACE)

1. Pengertian Ruang Personal

Ruang personal adalah kawasan sekitarnya seseorang yang mereka anggap sebagai psikologis mereka. Gagasan ruang pribadi berasal dari Edward T. Hall , ide-ide yang dipengaruhi oleh Heini Hediger studi dari perilaku hewan kebun binatang.
Ruang personal adalah tempat untuk kita menjadi diri kita sendiri. Melakukan sesuatu yang menjadi passion kita. Keinginan yang terpendam, yang sangat bernafsu untuk kita wujudkan dan kerjakan. Tanpa di batasi oleh peraturan, orang lain, bahkan diri kita sendiri. Tempat untuk bebas berekspresi menjadi diri kita sesungguhnya. Lebih jauh lagi ruang pribadi itu adalah “tempat kita melepaskan topeng kita”.
Menurut E.T. Hall ada 4 lapisan personal space:

a. Jarak intim: (0-0.5m) jarak ini adalah jarak dimana kita hanya mengizinkan orang-orang yang terasa sangat dekat dengan kita untuk berada didalamnya. Biasanya kekasih/pasangan, orang tua, kakak/adik, dan sahabat dekat dapat memasukinya tanpa menimbulkan rasa risih.

b. Jarak personal: (0.5-1.3m) jarak ideal untuk percakapan antara 2 orang teman atau antar orang yang sudah saling akrab.

c. Jarak sosial: (1.3-4m) jarak yang biasa kita buat untuk hubungan yang bersifat formal, seperti: bisnis, pembicaraan dengan orang yang baru kita kenal, dsb.

d. Jarak publik: (4-8m) jarak untuk hubungan yang lebih formal seperti penceramah dengan hadirinnya. Paspampresnya amerika biasanya membuat ruang kosong selebar +/- 4m untuk menjaga pejabat penting.


2. Ruang Personal dan Perbedaan Budaya

Ruang personal adalah sangat bervariasi. Mereka tinggal di tempat-tempat padat penduduk cenderung memiliki ruang pribadi yang lebih kecil. Ruang personal adalah juga dipengaruhi oleh posisi seseorang dalam masyarakat dengan individu-individu kaya lebih menuntut ruang pribadi yang lebih besar. Orang membuat pengecualian terhadap, dan memodifikasi kebutuhan ruang mereka. Sejumlah hubungan dapat memungkinkan untuk ruang pribadi untuk dimodifikasi dan ini termasuk hubungan keluarga, mitra romantis, persahabatan dan kenalan dekat di mana tingkat yang lebih besar kepercayaan dan pengetahuan seseorang memungkinkan ruang pribadi untuk dimodifikasi.


C. TERITORIALITAS

Holahan (dalam Iskandar, 1990), mengungkap bahwa teritorialitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat yang ditempatinya / area yang sering melibatkan ciri pemilikannya dan pertahanan dari serangan orang lain.
Menurut Sommer dan de War perbedaan ruang personal dengan teritorialitas adalah ruang personal dibawa kemanapun seseorang pergi dan tidak memperlihatkan dengan jelas kawasan yang menjadi pembatas antar dirinya dengan orang lain. Sedangkan teritori memiliki implikasi tertentu yang secara geografis merupakan daerah yang tidak berubah-ubah dengan batasan-batasan yang nyata.
1. Karakter dasar dari suatu teritori yaitu
1. Kepemilikan dan tatanan tempat.
2. Personalisasi atau penandaan wilayah.
3. Taturan atau tatanan untuk mempertahankan terhadap gangguan
4. Kemampuan berfungsi yang meliputi jangkauan kebutuhan fisik dasar, psikologis, sampai kepuasan kognitif dan kebutuhan estetika.

D. Hubungan antara Privasi, Ruang Personal dan Teritorialitas dengan Lingkungan.

Berdasarkan penjelasan mengenai Privasi, Teknik Teritorialitas, dan Ruang Personal diatas tentunya pasti sangat erat hubungannya dengan keadaan lingkungan. Dimana ketiga hal tersebut sangat mempengaruhi lingkungan ditinjau dari faktor-faktor yang menyebabkan, ataupun isi dari penjelasan tersebut.
Berikut akan dijelaskan tentang Privasi ternyata berpengaruh terhadap situasi lingkungan , dimana ketika ada seseorang yang memiliki tingkat privasi yang tinggi terhadap masalah yang sedang ia alami maka, orang tersebut cenderung ingin memisahkan diri dari lingkungannya dan cenderung, mencari tempat dimana ia bisa menyendiri. Tentunya lingkungan sekitarnya pun akan mengalami perubahan, perubahan terjadi yang paling mencolok adalah keluarganya. Keluarga pasti bertanya-tanya dengan masalah apa yang sedang dialami, tetapi ia tertutup dengan masalahnya. Lain halnya dengan seseorang yang memiliki privasi yang rendah terhadap masalah yang ia alami maka, orang tersebut cenderung mau berbagi terhadap orang dekatnya, baik keluarga ataupun teman-temannya, sehingga lingkungan keluarga dan lingkungan pertemanannya tau keadaan orang tersebut. Tapi, privasi yang tinggi dan rendah memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dalam penilaian hubungannya dengan lingkungan. Biasanya kita tidak terlalu menyukai orang-orang yang terlalu terbuka atau tertutup dalam kehidupan sehari-hari, tapi kita lebih menyenangi orang yang dapat mengimbangi antara keterbukaan dan ketertutupan dalam menghadapi masalah, sehingga ia dapat mengatur privasinya dalam berinteraksi di dalam lingkungan masyarakat.
Hubungan antara Teknik Teritorial dengan lingkungan dimana territorial terbagi atas 3 bagian : territorial primer, sekunder, dan umum. Primer contohnya adalah ruang kerja, ruang tidur, dimana jika seseorang memiliki ruang kerja yang tidak teratur, maka juga dapat mengakibatkan ketidaknyamanan di lingkungan sekitarnya walaupun tingkat ketidaknyamanannya tidak terlalu tinggi, territorial sekunder contohnya, toilet yang sifatnya semi public dimana daerah tersebut sering dikunjungi oleh banyak orang apabila keadaan toilet tidak bersih, juga akan mengakibatkan lingkungan masyarakat merasa tidak nyaman. Territorial umum contohnya adalah antrian karcis yang jika tidak antri atau tidak menaati tata tertib pembelian karcis maka, akan mengakibatkan perselisihan yang dapat menimbulkan lingkungan masyarakat terganggu.
Hubungan antara Ruang Personal dengan lingkungan adalah dimana ruang personal ini berkaitan dengan batas-batas yang ada di sekeliling orang dimana jika batas ini terganggu atau ada ketidaknyaman dalam diri seseorang akan mengakibatkan lingkungan yang berada di sekitarnya pasti terganggu. Contohnya : seseorang yang masuk ke dalam bus tapi, mengganggu penumpang lain tentunya akan mengakibatkan, penumpang lainnya terganggu.
Dari penjabaran di atas tentunya dapat disimpulkan bahwa privasi, teknik territorial, dan ruang personal sangat erat kaitannya dengan lingkungan sekitar, dan dapat pula menyebabkan ketidakyamanan jika tidak digunakan dengan baik.

Minggu, 27 Maret 2011

Kepadatan Dan Kesesakan Khususnya Di Tempat Tinggal

Kepadatan menurut para ahli :

Menurut Sundstrom, kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan ( dalam Wrightsman & Deaux, 1981 ). Atau sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik ( Holahan, 1978 ). Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak di bandingkan dengan luas ruangnya ( Sarwono, 1992 ).

Kesesakan menurut para ahli :

Menurut Altman ( 1975 ), Kesesakan adalah suatu proses interpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia satu dengan lainnya dalam suatu pasangan atau kelompok kecil.

Hubungan antara Kepadatan dengan Kesesakan :

Menurut Altman ( 1975 ), Heimstra dan McFarling ( 1978 ) antara kepadatan dan kesesakan memiliki hubungan yang erat karena kepadatan merupakan salah satu syarat yang dapat menimbulkan kesesakan, tetapi bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Kepadatan yang tinggi dapat mengakibatkan kesesakan pada individu ( Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982 ).

Contoh Kepadatan Dan Kesesakan :

Beberapa orang yang tinggal di dalam satu rumah dengan ruangan yang sempit, akan mengakibatkan suatu dampak negatif terjadi di dalamnya, berdasarkan penelitian mereka akan mengalami kepadatan dan kesesakan yang mengakibatkan ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu, peningkatan agresivitas pada anak-anak dan orang dewasa atau menjadi sangat menurun ( berdiam diri/murung ) bila kepadatan tinggi sekali ( high spatial density ). Juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama dan tolong menolong sesame anggota kelompok, dan terjadi penurunan ketekunan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan. Juga penurunan hasil kerja terutama pada pekerjaan yang menuntut hasil kerja yang kompleks.

Solusi Dari Kepadatan dan Kesesakan :

Menyesuaikan kondisi tempat tinggal dengan jumlah orang yang menghuni, tidak

memaksakan 1 rumah dihuni oleh terlalu banyak orang.

→ Bagi keluarga kurang mampu ( minim dari segi tempat tinggal ) hendaknya menjalankan

program pemerintah yaitu Keluarga Berencana ( KB ).

Sumber:

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab4-kepadatan_dan_kesesakan.pdf

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/arsitektur_psikologi_dan_masyarakat/bab5_tempat_tinggal_di_perkotaan_dalam_konteks_kepadatan.pdf

Senin, 28 Februari 2011

TUGAS MENARIK KESIMPULAN DARI SEBUAH ARTIKEL ( PSIKOLOGI LINGKUNGAN )

PENGARUH LINGKUNGAN FISIK ANAK JALANAN

Perilaku anak termasuk dalam hal kesehatan sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial serta nilai-nilai yang ada pada lingkungan mereka. Apabila anak berada pada lingkungan yang positif, maka perilaku yang terbentuk adalah perilaku yang positif pula, begitu pun sebaliknya.

Kondisi ini juga dapat terjadi pada anak jalanan. Semakin lama seorang anak hidup di jalanan maka semakin sulit untuk mengentasnya dari jalanan. Anak-anak tersebut telah melakukan perubahan pada sikap dan perilaku sebagai upayanya untuk menghadapi kekerasan di jalanan, eksploitasi, dan mengatasi bahaya. Di samping situasi buruk yang telah akrab dengan kehidupan anak jalanan tersebut, biasanya anak-anak tersebut telah menikmati kehidupannya di jalanan.

Survey yang dilakukan oleh Departemen Kesejahteraan Sosial pada tahun 1999 mengungkapkan bahwa mayoritas anak jalanan (60%) telah menjalani kehidupannya sebagai anak jalanan selama lebih dari 2-5 tahun, 17,4% telah hidup di jalanan kurang dari 2 tahun, 6,8% telah menjalani kehidupan di jalanan selama 6-9 tahun, dan bahkan 6,8% lainnya telah hidup di jalanan selama lebih dari 10 tahun.

Sebagian anak jalanan harus mempertahankan hidupnya dengan cara yang secara sosial kurang dan bahkan dianggap tidak dapat diterima. Hal ini karena tantangan yang dihadapi oleh anak jalanan pada umumnya memang berbeda dari kehidupan normatif yang ada di masyarakat.

Dalam banyak kasus, anak jalanan sering hidup dan berkembang di bawah tekanan dari stigma atau cap sebagai pengganggu ketertiban. Perilaku anak jalanan tersebut sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari stigma sosial dan keterasingannya dalam masyarakat. Tidak ada yang berpihak kepada anak-anak tersebut dan bahkan, sebenarnya, perilaku anak-anak tersebut mencerminkan perilaku masyarakat dalam memperlakukannya, serta harapan masyarakat terhadap perilakunya.

Salah satu bentuk perilaku anak jalanan yang kurang dapat diterima secara sosial adalah perilaku kekerasan atau tindakan agresifitas. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif.

Kehidupan jalanan yang keras dan liar membuat anak-anak jalanan sering memperoleh perlakuan kasar baik dari sesama anak jalanan maupun preman yang meminta uang dengan alasan keamanan, oleh karena itu anak jalanan membela dirinya sendiri dengan mengumpat, memaki, marah-marah, yang ditirunya dari orang lain atau sesama anak jalanan sendiri. Penilaian Masyarakat terhadap anak jalanan khususnya pengamen memandang dengan sebelah mata menyebabkan mereka merasa sebagai orang yang tidak berguna.

Sumber : http://elheedayat.blogspot.com/2010/01/pengaruh-lingkungan-fisik-anak-jalanan.html

KESIMPULAN :

- * Perilaku anak jalanan terpengaruh oleh kehidupan jalanan yang keras dan liar, keagresifan mereka semata-mata untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif.

- * Tantangan dalam kehidupan jalanan sangat mempengaruhi pembentukan perilaku mereka, seperti menghindari kekerasan yang sering terjadi, eksploitasi dan perlindungan terhadap bahaya.

Sabtu, 27 November 2010

Indonesia Kembali Menangis, Relawan Siap Menyalurkan Bantuan-Bantuan

Indonesia kembali menangis, alam Indonesia kembali memakan korban. Dengan terjadinya bencana meletusnya gunung merapi yang mengeluarkan awan panas, yang terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010, mengakibatkan banyak penduduk yang tinggal di lereng gunung merapi menjadi korban, dan salah satunya telah menewaskan seorang juru kunci merapi, yaitu Mbah Maridjan. Bencana merapi ini, bukanlah bencana pertama yang menelan banyak korban jiwa manusia, telah banyak bencana yang melanda alam Indonesia sebelumnya.
Bencana ini menyita banyak perhatian masyarakat Indonesia dan Masyarakat Dunia Luas, bentuk-bentuk perhatian yang terlihat jelas ditunjukkan, dengan penyaluran logistik melalui darat, laut, maupun udara. Relawanpun dikerahkan pada banyak titik penanggulangan korban. Banyak camp-camp pengungsian telah didirikan oleh lembaga-lembaga, seperti PMI (Palang Merah Indonesia), SAR (Search And Rescue) dan Relawan-relawan indonesia maupun Internasional.
Para warga sekitar lereng gunung yang rumahnya dekat dengan gunung, di himbau untuk tetap di stand pengungsian, karena untuk menghindari letusan merapi selanjutnya. Namun banyak warga yang tetap memaksa naik, untuk melihat keadaan rumah mereka dan harta benda mereka. Bagi warga yang rumahnya hancur akibat merapi, akan di lakukan relokasi, telah disiapkan lahan seluas 31,5 hektare untuk di bangun shelter atau hunian sementara bagi korban. Sarana Air Bersih, sarana kesahatan dan pendidikanpun sangat dibutuhkan oleh para korban.
Para relawan yang datang untuk para korban merapi, tidak hanya membantu secara logistik pangan, namun mereka datang bertujuan untuk menghibur para korban, dengan bermain, mengadakan nonton bareng, dll. Hal tersebut di lakukan untuk menghilangkan trauma para pengungsi pasca bencana. Banyak bantuan logistik yang diterima para korban bencana, namun banyak juga yang hingga sekarang masih menumpuk pada beberapa titik, seperti stasiun kereta api, dan tempat-tempat pengumpulan bantuan lain. Dan sedang diproses untuk selanjutnya di kirimkan di barak-barak pengungsian.

Sabtu, 06 November 2010

Review Jurnal

TUGAS REVIEW JURNAL TENTANG KELOMPOK

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT serta junjungankami Nabi Besar Muhammad SAW yang telah memberikan nikmat sehat kepada kita semua. Alhamdulillah, dengan terselesaikannya pembuatan Tugas review jurnal tentang konflik kelompok, kami sangat bersyukur dengan ini. Karena dengan niat yang baik kami ingin melengkapi tugas yang diberikan oleh dosen yang bersangkutan guna memenuhi nilai mata kuliah tersebut. Review jurnal ini berisi tentang pembentukan suatu kelompok, konflik kelompok, prestasi kelompokn beserta penjabaran lainnya yang saling berkaitan. Kami berharap dengan kehadiran tulisan ini dapat memberikan pengetahuan baru bagi para pembaca yang tidak mengetahui secara dalam tentang hal tersebut.

Demikian yang bisa kami sampaikan, mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini. Kritik yang membangun adalah satu hal yang kami butuhkan.

Terima kasih.

Wassalam Wr.Wb.

JURNAL
Jurnal 1

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI NELAYAN TERHADAP KONFLIK KELOMPOK DENGAN MOTIVASI KERJA PADA MASYARAKAT PESISIR DI BATANG

Apa Yang Di Teliti?

Penelitian ini meneliti hubungan antara persepsi nelayan terhadap konflik dengan motivasi kerja pada masyarakat pesisir di Batang

A. Latar Belakang Masalah

Sumber daya manusia merupakan aset yang sangat penting dan berharga untuk menunjang keberhasilan individu. Kualitas sumber daya manusia mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan individu untuk dapat tetap hidup dan berkembang dalam era globalisasi. Oleh karena itu, agar individu dapat lebih berkembang secara optimal melaksanakan tugas sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Winengan (2007) menjelaskan bahwa masyarakat pesisir identik dengan nelayan merupakan bagian dari masyarakat terpinggirkan yang masih terus bergulat dengan berbagai persoalan kehidupan, termasuk dalam memenuhi kebutuhan hidup. Nelayan dalam membiayai kebutuhan hidup sehari-harinya hanya mengandalkan hasil penjualan ikan yang didapatkan dari menangkap ikan di laut. Kondisi kehidupan nelayan selalu menjadi hal yang menarik untuk dibincangkan karena selalu dalam kondisi yang memprihatinkan. Nelayan dituntut untuk memiliki semangat kerja yang tinggi untuk dapat bertahan sebagai nelayan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup. Untuk memiliki semangat kerja tinggi dibutuhkan kemauan dan kemampuan. Kemauan yang kuat akan memberikan warna yang kuat dari dalam individu terhadap keberhasilan dalam mencapai cita-cita atau tujuan.

Semangat kerja itu sendiri timbul dan tumbuh dalam diri individu yang disebabkan adanya motivasi untuk memenuhi kebutuhan batin maupun kebutuhan lahir diri individu. Secara keseluruhan tingkah laku manusia dituntut untuk mencapai kemajuan dan mewujudkan diri sendiri di dalam dunianya memerlukan motivasi kerja. Akan tetapi, motivasi para nelayan dapat menurun disebabkan adanya masalah yang belum terselesaikan.

Motivasi yang tinggi diperlukan dalam dunia kerja. Akan tetapi dalam kenyataan, motivasi kerja yang tinggi kurang dimiliki oleh seseorang sehingga dapat dikatakan orang tersebut memiliki motivasi kerja rendah. Motivasi kerja rendah ini juga terjadi pada nelayan yang bermatapencaharian menangkap ikan.

Berdasarkan hasil wawancara pra penelitian dengan Kepala Kelompok nelayan di Kalurahan Klidang Lor, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang (Listio Sarana, 2009) dapat diperoleh keterangan bahwa nelayan di Kalurahan Klidang Lor sebagian besar anggota pada tahun 2009 ini motivasi kerjanya menurun. Motivasi kerja nelayan menurun dapat diketahui melalui kegiatan yang dilakukan sebagian besar nelayan melaut hanya 2 -3 jam, yang biasanya nelayan sampai semalam dan sebagian nelayan akan pergi melaut apabila diajak oleh teman. Dua hal tersebut berpengaruh terhadap penghasilan nelayan juga menurun. Faktor penyebab menurunnya motivasi kerja karena banyak menemui permasalahan, antara lain masalah dengan tengkulak, masalah dengan kebijakan pemerintah yang memojokan keadaan nelayan karena membela kepentingan orang-orang tertentu, dan naiknya harga BBM (solar) yang membuat nelayan kesulitan membeli BBM (solar).

Ditambahkan oleh Karim (2008) bahwa masyarakat nelayan yang selama ini tidak berdaya akibat tekanan-tekanan kemiskinan struktural. Pemerintah hanya membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya simbolistik serta tidak jelas seperti Gerbang Mina Bahari (GMB), Revolusi Biru ( Blue Revolution ) dan segala macamnya yang output-nya membuat kemiskinan nelayan menjadi permanen. Aspirasi masyarakat pesisir untuk mangatasi berbagai persoalan lingkungan di wilayahnya sering menghadapi kendala karena tidak adanya dukungan yang memadahi dari para elite pemerintahan. Tidak jarang, aparat keamanan justru berbuat represif terhadap masyarakat yang mencoba mengganggu kepentingan investasi pemilik modal atau perusahaan yang berada di kawasan pesisir. Keadaan tersebut menimbulkan sebagian besar nelayan memiliki motivasi kerja rendah.

Motivasi kerja rendah ini juga dialami oleh para nelayan yang masuk dalam anggota koperasi nelayan Tri Bakti Santoso di Kalurahan Klidang Lor, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. Berdasarkan hasil wawancara pra penelitian (2 Februari 2009) diperoleh data dari pimpinan koperasi nelayan Tri Bakti Santoso bahwa motivasi yang dimiliki para nelayan anggota koperasi Tri Bakti Santoso rendah. Hal ini dapat diketahui melalui hasil tangkapan ikan nelayan yang semakin menurun karena waktu nelayan mencari ikan cenderung berkurang. Biasanya nelayan mencari ikan selama 10-12 jam menjadi 8 jam kurang. Data lain dari jawaban beberapa anggota koperasi nelayan Tri Bakti Santoso (hasil wawancara 5 Februari 2009) diperoleh kesimpulan bahwa motivasi kerja nelayan rendah karena pengaruh cuaca, sikap pengurus koperasi yang kurang peduli dalam menyediakan solar sehingga petani terpaksa meminjam uang ke rentenir dengan sistem ijon yang membuat hasil tangkapan ikan nelayan tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga.

Motivasi kerja dalam dunia kerja menempati unsur terpenting yang harus dimiliki nelayan. Sebab motivasi merupakan kemampuan usaha yang dilakukan seseorang untuk meraih tujuan dan disertai dengan kemampuan individu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Motivasi merupakan pendorong yang menyebabkan seseorang rela untuk menggerakkan kemampuan tenaga dan waktunya untuk menjalankan semua kegiatan yang telah menjadi tugas dan tanggung jawabnya, agar kewajibannya terpenuhi serta sasaran dan tujuan yang ingin dicapai perusahaan terwujud. Manusia memiliki banyak motivasi dasar yang berperan penting dalam dunia kerja. Motivasi individu dalam bekerja akan memberikan dampak positif, baik bagi diri individu maupun pihak lain. Sikap positif yang ditunjukkan untuk meningkatkan kepentingan diri sendiri merupakan cerminan motivasi pada diri individu tinggi. Motivasi berprestasi menjadi komponen yang sangat berperan dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Individu memiliki motivasi yang tinggi akan mempunyai semangat, keinginan dan energi yang besar dalam diri individu untuk bekerja seoptimal mungkin.

Akibat adanya persoalan-persoalan yang di temui pada nelayan, Winengan (2007) menyatakan ada tiga sumber kerawanan yang dapat menurunkan motivasi kerja nelayan. Pertama , kerawanan yang disebabkan oleh keadaan alam dan ekologis yang menyebabkan masyarakat miskin tidak mampu mempertahankan tingkat hidupnya yang layak; Kedua, kerawanan yang disebabkan oleh bekerjanya sistem harga, sehingga masyarakat miskin tidak mampu berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi; Ketiga, kerawanan monokultural yang menyebabkan masyarakat miskin menjadi tidak berdaya untuk berkembang. Masyarakat pesisir (masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pantai) yang identik dengan nelayan merupakan bagian dari masyarakat terpinggirkan yang masih terus bergulat dengan berbagai persoalan kehidupan, baik ekonomi, sosial, maupun budaya.

Novawanty (2008) menyatakan bahwa persoalan sosial yang berpengaruh terhadap motivasi pada nelayan akibat pihak luar dari sekelompok warga atau organisasi seperti pengusaha ikan atau tengkulak ikan dan kebijakan-kebijakan pemerintah dalam Undang-undang No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (UU PWP-PPK) dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU PM) yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh oleh aparat pemerintah kurang memihak para nelayan, menyebabkan intensitas konflik memuncak. Sodik, dkk., (2006) menjelaskan bahwa dalam tataran konflik antar kelompok ini, kepentingan individual dalam kelompok seringkali juga diabaikan, karena telah diwakili oleh kepentingan kelompok (individu mengalami gejala sosial yang dikenal sebagai oversocialized processes dimana tujuan dan kepentingan kolektif menjadi segala-galanya). Artinya, persaingan antar individu pada suatu kelompok melawan kepentingan individu pada kelompok yang berbeda menjadi bagian integral konflik sosial antar kelompok. Dengan kata lain konflik sosial selalu melibatkan perselisihan antar kelompok (partai/pihak) dimana individu di dalamnya menjadi konstituen pendukung perjuangan kelompoknya masing-masing. Demikianlah sehingga pada banyak kasus, konflik kelompok (group conflict ) dipakai untuk menunjuk pengertian konflik sosial (social conflict).

Konflik dalam suatu kelompok kerja dapat berdampak positif namun dapat juga berdampak negatif. Anoraga (2002) menjelaskan dampak positif dari adanya konflik di organisasi yaitu dapat menimbulkan perubahan secara konstruksi, segala daya dan motivasi tertuju pada pencapaian tujuan, merangsang inovasi dan keeratan dalam kelompok. Dampak negatif dari adanya konflik dalam organisasi dapat menurunkan kerja dan hilangnya motivasi kerja. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu motivasi kerja nelayan di Kalurahan Klidang Lor, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang menurun karena faktor cuaca, ketidakpedualian pengurus koperasi, dan sikap rentenir yang menekan nelayan dengan bunga tinggi. Di sisi lain, konflik yang terjadi kelompok pada nelayan berdampak negatif sehingga menimbulkan persepsi negatif nelayan terhadap konflik yang terjadi. Atas dasar penjelasan tersebut, maka rumusan dalam penelitian ini sebagai berikut: apakah ada hubungan antara persepsi terhadap konflik dengan motivasi kerja pada nelayan.

B. Metode Yang Digunakan

Metode Kuantitatif.

Variabel kriterium dalam penelitian ini adalah konflik dengan motivasi kerja pada masyarakat pesisir di Batang , sedangkan variabel bebasnya adalah hubungan antara persepsi nelayan. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah Masyarakat pesisir di Batang.

C. Pengujian

Pengumpulan data dilakukan dengan langsung turun ke lapangan. Dan mencari data langsung dari masyarakat dan para nelayan di Batang.

D. Hasil

Berdasarkan hasil wawancara pra penelitian dengan Kepala Kelompok nelayan di Kalurahan Klidang Lor, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang (Listio Sarana, 2009) dapat diperoleh keterangan bahwa nelayan di Kalurahan Klidang Lor sebagian besar anggota pada tahun 2009 ini motivasi kerjanya menurun. Motivasi kerja nelayan menurun dapat diketahui melalui kegiatan yang dilakukan sebagian besar nelayan melaut hanya 2 -3 jam, yang biasanya nelayan sampai semalam dan sebagian nelayan akan pergi melaut apabila diajak oleh teman.

Dua hal tersebut berpengaruh terhadap penghasilan nelayan juga menurun. Faktor penyebab menurunnya motivasi kerja karena banyak menemui permasalahan, antara lain masalah dengan tengkulak, masalah dengan kebijakan pemerintah yang memojokan keadaan nelayan karena membela kepentingan orang-orang tertentu, dan naiknya harga BBM (solar) yang membuat nelayan kesulitan membeli BBM (solar).

Motivasi kerja rendah ini juga dialami oleh para nelayan yang masuk dalam anggota koperasi nelayan Tri Bakti Santoso di Kalurahan Klidang Lor, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. Berdasarkan hasil wawancara pra penelitian (2 Februari 2009) diperoleh data dari pimpinan koperasi nelayan Tri Bakti Santoso bahwa motivasi yang dimiliki para nelayan anggota koperasi Tri Bakti Santoso rendah. Hal ini dapat diketahui melalui hasil tangkapan ikan nelayan yang semakin menurun karena waktu nelayan mencari ikan cenderung berkurang. Biasanya nelayan mencari ikan selama 10-12 jam menjadi 8 jam kurang. Data lain dari jawaban beberapa anggota koperasi nelayan Tri Bakti Santoso (hasil wawancara 5 Februari 2009) diperoleh kesimpulan bahwa motivasi kerja nelayan rendah karena pengaruh cuaca, sikap pengurus koperasi yang kurang peduli dalam menyediakan solar sehingga petani terpaksa meminjam uang ke rentenir dengan sistem ijon yang membuat hasil tangkapan ikan nelayan tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga.


Jurnal 2

KONFLIK KEPENTINGAN ANTARA AMERIKA DAN KELOMPOK ISLAM FUNDAMENTALIS

Apa Yang Diteliti?

Penelitian ini meneliti tentang Konflik kepentingan antara Amerika dan Kelompok Islam Fundalismentalis

A. Latar Belakang

Negara yang merasa memiliki ekonomi yang baik, sumber daya manusia yang potensial, dan keuangan yang kuat menpunyai banyak kepentingan, terutama kepentingan untuk menguasai perekonomian dunia. Berbagai cara dilakukan untuk memenuhi kepentingan tersebut, bahkan tidak jarang dilakukan dengan cara yang tidak etis kadang-kadang menjurus pada tindakan HAM dan kriminal. Hal ini dapat dilihat dari tindakan atau strategi yang dilakukan negara adikuasa seperti Amerika Serika Untuk memenuhi kepentingan ekonominya salah satu caranya dengan menguasai sumberdaya alam negara lain, apakah itu minyak, gas, intan, emas, tembaga, bahkan uranium. Untuk dapat menguasai sumber daya alam tersebut berbagai cara dilakukan, tidak jarang intelijen turut berperan dalam mengatur strategi. Bila diamati secara cermat, negara yang kaya akan sumberdaya alamnya, mayoritas penduduknya beragama Islam. Dalam agama Islam, manusia diwajibkan untuk berusaha atau melakukan aktivitas dalam mempertahankan hidupnya selagi tidak bertentangan dengan syariat Islam, atau tidak merusak lingkungan sosial alam. Di sisi lain Amerika memiliki budaya dan kepercayaan yang berbeda dengan negara-negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, bahkan tidak jarang bertolak belakang. Hal ini sering memicu timbulnya konflik. Seperti diketahui Amerika merupakan negara kapitalis yang ingin mendapatkan untung sebesar-besarnya, tetapi di sisi lain kurang memprhatikan aspek kultural dan sosial serta religi negara tempat ia menanamkan modal atau investasi.

B. Metode Yang Digunakan

Metode Kuantitatif.

Variabel kriterium dalam penelitian ini adalah , sedangkan variabel bebasnya adalah . Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah Negara amerika yang merupakan Negara yang mempunyai konflik kepentingan dengan kelompok fundamental. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian nya adalah amerika dengan kelompok islam.

C. Pengujian

Pengujian yang dilakukan adalah dengan mencari data langsung di lapangan.

D. Hasil

Dari hasil pengamatan,dapat di simpulkan bahwa, konflik yang sering terjadi antara amerika dengan kelompok islam fundamental disebabkan oleh berbagai faktor, contohnya ada nya kepentingan-kepentingan tertentu dari Negara-negara besar seperti amerika untuk menguasai Negara-negara lain. Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan apa yang di inginkan,bahkan dengan tindakan-tindakan yang dapat melanggar HAM dan menjurus pada kriminal.

Salah Satu contoh nya adalah menguasai sumber alam Negara lain seperti gas alam,intan,minyak bumi,tembaga bahkan uranium. Bahkan untuk mendapatkan semua itu mereka mengerahkan segala pihak dalam memenuhi kebutuhan atau kepentingan nya.

Amerika dan Negara-negara islam mempunyai kultur budaya yang sangat jauh berbeda, inilah yang sering terjadi timbulnya konflik. Terlebih lagi amerika adalah Negara kapitalis dimana Negara tersebut mempunyai paham untuk mencari keuntungan yang sebesar-besar nya, tetapi tidak memperhatikan aspek-aspek social,cultural serta religi di Negara yang dijadikan tempat investasi nya.

Jurnal 3

HAMAS DAN ISRAEL: STRATEGI BERTENTANGAN KELOMPOK BERBASIS POLITIK

Apa Yang Diteliti?

Penelitian ini meneliti tentang pertentangan antar kelompok Hammas dan Israel yang berbasis politik

A. Latar Belakang

Konflik antara Palestina dan Israel telah meningkat sejak tahun 2001, bahkan sebagai ancaman yang dirasakan ke Israel dari Mesir, Yordania, Irak, atau bahkan Suriah, telah menurun. Israel tidak bisa mentolerir 'Arab perlawanan Palestina kewenangan mereka atas dasar hukum penolakan penentuan nasib sendiri, dan akhirnya memilih untuk memberikan beberapa ukuran penentuan nasib sendiri sambil terus mengkonsolidasikan kontrol Wilayah Pendudukan, Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza. Namun, komprehensif perdamaian, berkilauan di kejauhan, telah menghindari semua. Pemerintah Palestina dipimpin oleh Hamas pada tahun 2006, politik, dan ekonomi telah menjadi besar hambatan bagi perdamaian substantif. Alasan Israel bandel dan sikap Hamas menggambarkan kedua kontinuitas dan perubahan dalam dinamika konflik sejak periode Oslo (kira-kira tahun 1994 hingga al-Aqsa

Intifadha 2000)

Sekarang, lebih dari sebelumnya, jangka panjang gencatan senjata dan negosiasi yang diperlukan. Ini dapat mengakibatkan secara bertahap untuk itu-seperti perdamaian fatamorgana, dan tipe baru keamanan rezim.

B. Metode Yang Digunakan

Metode kualitatif

Variable kriterium yang di gunakan dalam penelitian ini adalah konflik antara kelompok Hammas dengan Israel yang sudah semakin mengerucut. Variable bebas nya adalah konflik strategi antara Hammas dengan Israel yang sarat dengan muatan politik.

C. Pengujian

Pengumpulan data dilakukan dengan langsung turun ke lapangan. Mengambil data berdasarkan konflik yang terjadi antara Hamas dan Israel.

D. Hasil

Perdamaian yang belum menemukan titik terang mengakibatkan konflik yang berkepanjangan di timur tengah. Dan sering terjadi perang yang tidak terduga-duga dan juga memakan korban yang tidak sedikit di antara kedua belah pihak. Dan ini merupakan keperihatihan Negara islam di dunia\ terhadap Negara palestina yang selalu di lecehkan oleh Israel dan sekutu-sekutunya.

Jurnal 4

PERAN SERTA MASYARAKAT DAN NEGARA DALAM PENYELESAIAN KONFLIK DI INDONESIA

Apa Yang Diteliti?

Penelitian ini meneliti tentang Peran serta masyarakat dan Negara dalam penyelesaian kinflik di Indonesia

A. Latar Belakang

Konflik merupakan peristiwa yang wajar di tengah kehidupan masyarakat majemuk, karena perbedaan nilai, persepsi, kebiasaan, dan kepentingan di antara berbagai kelompok masyarakat merupakan faktor potensial yang dapat menjadi pemicu. Kemungkinan berlangsungnya konflik akan semakin menguat jika perbedaan horisontal (nilai, ideologi, kebiasaan, dan sebagainya) tersebut dipertajam oleh perbedaan vertikal (kesenjangan ekonomi dan kekuasaan). Sebagai realitas sosial masyarakat, konflik mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Dalam dimensi positif, konfllik menjadi bagian penting untuk terwujudnya perubahan sosial yang lebih berarti menyelaikan perbedaan yang timbul, membangun dinamika, heroisme, militanisme, penguatan solidaritanisme baru, serta lompatan sejarah ke depan untuk integrasi yang lebih kokoh. Sedangkan mn h dimensi negatif, konflik menimbulkan resiko bagi masyarakat dan bangsa, mengakibatkan kerawanan sosial dan politik serta memicu krisis atau kekacauan ( chaos ) dalam berbagai bentuknya seperti; disorientasi nilai, disharmonisasi sosial, disorganisasi, bahkan sampai kepada disintegrasi bangsa. Indonesia sebagai sebuah bangsa, sejak awal kemerdekaan hingga era reformasi mengalami perjalanan konflik yang luar biasa, baik dalam bentuk, sifat dan jenis, maupun dalam eskalasinya yang beragam, kompleks dan multi dimensi. Sejak era pemerintahan Soekarno (1945-1965), Soeharto (1966-1998), sampai pada masa pemerintahan di era reformasi (1999-2006), gejolak konflik dan kekerasan terjadi secara bertubi-tubi dari lingkup komunitas lokal, regional sampai tingkat nasional. Sejauh pengamatan yang dapat disaksikan bahwa fenomena konflik sosial politik di Indonesia sampai tahun 2006 menunjukkan intesitas yang semakin tinggi serta semakin memprihatikan. Dalam catatan hasil laporan penelitian yang di lakukan, konflik hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia ( Jurnal PSK , Edisi II, April 2000). Tahun 1996 sampai masa reformasi di tahun 2000, inventarisasi kasus-kasus konflik kekerasan mencapai 628 kasus dengan perincian; tahun 1996 terjadi 24 konflik; tahun 1999 terjadi 210 kasus konflik; tahun 2000 terjadi 230 kasus konflik, tahun 2006 konflik kekerasan yang terjadi dari tingkat komunal sampai nasional mencapai 240 kasus.

Kompleksitas dan intensitas konflik yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Aceh, Maluku, dan Timor-Timur telah mendorong keterlibatan dunia internasional. Penyelesaian konflik tersebut, khususnya di Aceh dan Maluku, sejauh ini dapat diatasi meskipun melalui upaya panjang dan rumit. Kedua daerah tersebut dapat dipertahankan sebagai bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sementara, penyelesaian terhadap konflik vertikal di Timor-Timur telah memaksa Indonesia harus rela melepaskan daerah tersebut menjadi negara yang berdiri sendiri.

Persoalannya kemudian, pemerintah dan rakyat Indonesia dihadapkan kepada situasi baru pasca konflik yang meninggalkan sejumlah masalah yang rumit.

B. Metode Yang Digunakan

Metode Kualitatif.

Variabel kriterium dalam penelitian ini adalah Konflik di Indonesia , sedangkan variabel bebasnya adalah Peran serta masyarakat dan Negara. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah Masyarakat Indonesia.

C. Pengujian

Pengumpulan data dilakukan dengan langsung turun ke lapangan. Dan mencari data langsung dari masyarakat dan peristiwa yang terjadi.

D. Hasil

Konflik yang terjadi di Aceh dan Maluku merupakan konflik yang multidimensi baik dari segi bentuk, sifat, jenis dan eskalasi. Konflik itu bukan karena sebab yang berdiri sendiri, hampir semua konflik selalu bersentuhan dengan persoalan kepentingan negara (penguasa) dengan kepentingan masyarakat; individu, kelompok, komunal, golongan, lokal serta kepentingan elit yakni berkaitan erat dengan budaya politik masyarakat Indonesia yang masih bersifat paternalistik. Kompleksitas konflik yang terjadi pada hakekatnya merupakan akumulasi dari ketidakadilan dari sebuah sistem yang dibangun bersama. Bangsa yang di dalamnya mengandung kumpulan kelompok manusia yang saling berinteraksi mencakup; komunitas,. suku, etnis, golongan, rakyat dan pemerintah sebagai penyelenggara negara dapat menjadi penyebab sekaligus pemicu dari timbulnya konflik termasuk konflik kekerasan.

Dari berbagai konflik yang muncul di Indonesia dapat diuraikan dari sifatnya, konflik dalam sifat vertikal (daerah berhadapan dengan pusat atau massa berhadapan dengan elit) dengan bentuk konflik kekerasan dan jenisnya separatisme, konflik di Aceh dengan skala yang besar adalah contoh dalam hal ini. Walaupun telah damai, tetapi segala yang diakibatkan konflik diperlukan kemampuan menjaga apa yang menjadi kesepakatan damai dan membangun kembali apa yang hilang, rusak atau tak berdaya dengan cara sinerjitas antara masyarakat dan negara. Konflik di Maluku memiliki karakter yang berbeda dengan Aceh, konflik di Maluku pada awalnya bersifat vertical. Ketika Semokil dengan Republik Maluku Selatan (RMS) yang disebut kelompok loyalis kolonial Belanda melakukan perlawanan kekerasan (bersenjata) dengan jenis separatisme pada era pemerintahan Soekarno dan konflik diselesaikan.

Dalam era transisi perubahan politik di Indonesia di tahun 1999, di Ambon (Maluku) terjadi konflik horizontal dalam bentuk konflik kekerasan komunal antaretnis.Tetapi dalam perkembangannya telah bertumpang tindih dengan konflik yang bersifat vertikal, yakni separatisme dengan munculnya kembali kelompok pengacau.


Daftar Pustaka


pps.unas.ac.id:8080/.../P%20421-442%20Peran%20Serta.pdf

http://peterfelix.tripod.com/home/Conflict.pdf

http://www.fsrd.itb.ac.id/wp-content/uploads/2-p-chairil-doc.pdf

http://etd.eprints.ums.ac.id/7815/1/F100040120.pdf

http://www.strategicstudiesinstitute.army.mil/pdffiles/pub894.pdf


Sabtu, 09 Oktober 2010

Capella Band


Pada tahun 2006, terbentuk sebuah ikatan persahabatan antara pelajar SMA, dengan pemikiran yang sama, mereka mengambil keputusan membentuk sebuah band sekolah. Band ini terbentuk dari minat dan hobi yang sama dalam bidang seni musik, mereka memilih Pop Alternatif sebagai genre musik mereka.

Latihan demi latihan di Lakukan mereka 3 sampai 4 kali seminggu untuk mengkompakkan para personil band ini, tidak hanya latihan yang di lakukan, merekapun mengisi acara berbagai event, di dalam maupun luar sekolah, merekapun mengekspresikan aksinya pada festival-festival band yang diselenggarakan, sebagai penambahan pengalaman penampilan mereka.

Persahabatan antara para personil di mulai dari awal mereka memasuki SMA, kekompakkan mereka telah terlihat sejak awal masuk. Dengan kekompakkan itu, Edo (Vocalist), Leo (Vocalist), Ian(Gitar Rythm), Jehan(Gitar Melody), Satria(Bassist) dan Randra(Drum), sepakat membentuk sebuah band sekolah, dan salah satu dari mereka berinisiatif memberikan nama “ Capella Band “ untuk band tersebut, dan disetujui dengan personil lain.

Band ini memiliki tujuan yang kuat untuk berkreasi hingga menembus dapur rekaman, setiap langkah menjadi berarti bagi mereka, keceriaan yang tercipta dengan seiringgnya waktu, membuat suatu keeratan dalam persahabatan. Berkumpul antara para personil sering dilakukan, Capella Band di sebuah basecamp, yang terletak di Kenten, Palembang. Di basecamp ini para personil menghabiskan waktu dengan saling bertukar pikiran, membicarakan sebuah lagu yang telah diciptakan dan latihan.

Walaupun mereka memiliki aktifitas yang padat, seperti harus sekolah dan kegiatan lainnya, mereka dapat membagi waktunya antara band dan pendidikan, setiap pelajaran, mereka tidak melalaikannya, band ini memiliki prinsip, “ Pendidikan Adalah Terpenting “.