Powered By Blogger

Search

Tampilkan postingan dengan label Psikologi Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2011

TUGAS

STRESS

Stres adalah suatu kondisi dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting.

Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka.

Stres bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan. (id.wikipedia.org/wiki/stres)

KAITAN ANTARA STRESS DENGAN PSIKOLOGI LINGKUNGAN

Stres dihasilkan oleh proses dinamika ketika orang berusaha memperoleh kesesuaian antara kebutuhan-kebutuhan dan tujuan dengan apa yang disajikan oleh lingkungan. Proses ini dinamika karena kebutuhan-kebutuhan individu sangat bervariasi sepanjang waktu dan berbagai macam untuk masing-masing individu. Cara penyesuaian atau pengatasan masing-masing individu terhadap lingkungan juga berbagai macam.

Variabel transmisi harus diperhitungkan bila mengkaji stres psikologis yang disebabkan oleh lingkungan binaan. Misalnya perkantoran, status, anggapan tentang kontrol, pengaturan lingkungan dan kualitas lain dapat menjadi variabel transmisi yang berpengaruh pada pandangan individu terhadap situasi yang dapat dipakai untuk menentukan apakah situasi tersebut menimbulkan stres atau tidak.

Stres yang diakibatkan oleh kepadatan dalam ruang dengan penilaian kognitif akan mengakibatkan denyut jantung bertambah tinggi dan tekanan darah menaik sebagai reaksi stimulus yang tidak diinginkan. Dengan kondisi tersebut, maka seseorang yang berusaha mengatasi situasi stres akan memasuki tahap kelelahan karena energinya telah banyak digunakan untuk mengatasi situasi stres. Dalam berbagai kasus, stimulus yang tidak menyenangkan tersebut muncul berkali-kali, sehingga reaksi terhadap stres menjadi berkurang dan melemah. Proses ini secara psikologis dikatakan sebagai adaptasi.

Didalam membahas hubungan manusia dengan lingkungan binaan, maka pada lingkungan binaan tersebut diharapkan akan didapat ungkapan-ungkapan arsitektur berupa pola-pola yang mempengaruhi perkembangan dan perubahan konsepsi bangunan. Perubahan-perubahan konsepsi pada bangunan itu terjadi pada perilaku penghuni terhadap tata atur yang telah tercipta pada bangunan itu dahulunya. Akibat dari pergeseran perlakuan atau aktivitas dari penghuni mengakibatkan keracunan visual dan tata atur bangunan tersebut.

STRES MEMPENGARUHI PERILAKU INDIVIDU DALAM LINGKUNGAN DAN BAGAIMANA HAL ITU BISA TERJADI

Stres bisa mempengaruhi perilaku individu dalam lingkungan sebab apabila seseorang individu yang sedang mengalami stres berat karen satu dan lain hal, akibatnya akan mengganggu segala aktivitas orang tersebut dan mungkin juga akan mengalami tekanan darah tinggi, seriawan, jadi mudah jengkel, sulit membuat keputusan yang bersifat rutin, kehilangan selera makan, rentan terhadap kecelakaan, perilakunya menjadi lebih mudah tersinggung, cepat lelah, dan semua yang dilakukannya akan menjadi lebih berat dan juga akan menjadi berantakan dalam melakukan suatu pekerjaan karena seseorang yang sedang mengalami stres akan membuat orang tersebut menjadi lebih sulit untuk berkosentrasi terhadap suatu hal atau berkosentrasi dalam melakukan pekerjaannya. Akibat stres dapat dikelompokkan dalam tiga kategori umum: gejala fisiologis, gejala psikologis, dan gejala perilaku.

Pengaruh gejala stres biasanya berupa gejala fisiologis. Terdapat riset yang menyimpulkan bahwa stres dapat menciptakan perubahan dalam metabolisme, meningkatkan detak jantung dan tarikan napas, menaikkan tekanan darah, menimbulkan sakit kepala, dan memicu serangan jantung.

Stres yang berkaitan dengan pekerjaan dapat menyebabkan ketidakpuasan terkait dengan pekerjaan.Ketidakpuasan adalah efek psikologis sederhana tetapi paling nyata dari stres. Namun stres juga muncul dalam beberapa kondisi psikologis lain, misalnya, ketegangan, kecemasan, kejengkelan, kejenuhan, dan sikap yang suka menunda-nunda pekerjaan.

Gejala stres yang berkaitan dengan perilaku meliputi perubahan dalam tingkat produktivitas, kemangkiran, dan perputaran karyawan, selain juga perubahan dalam kebiasaan makan, pola merokok, konsumsi alkohol, bicara yang gagap, serta kegelisahan dan ketidakteraturan waktu tidur.

Contoh : Anak SD yang mendapatkan tekanan di sekolahnya, serta tidak menemukan suasana sekolah yang nyaman, mengakibatkan anak tersebut stres. Dia dapat melakukan apa saja untuk pelarian dari stresnya itu. Stres tersebut dapat berakibat penurunan prestasi karena stres akan membuat seorang anak malas untuk belajar, dan masuk ke sekolahnya. Dapat juga dengan terus menerus bermain game.

Minggu, 27 Maret 2011

Kepadatan Dan Kesesakan Khususnya Di Tempat Tinggal

Kepadatan menurut para ahli :

Menurut Sundstrom, kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan ( dalam Wrightsman & Deaux, 1981 ). Atau sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik ( Holahan, 1978 ). Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak di bandingkan dengan luas ruangnya ( Sarwono, 1992 ).

Kesesakan menurut para ahli :

Menurut Altman ( 1975 ), Kesesakan adalah suatu proses interpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia satu dengan lainnya dalam suatu pasangan atau kelompok kecil.

Hubungan antara Kepadatan dengan Kesesakan :

Menurut Altman ( 1975 ), Heimstra dan McFarling ( 1978 ) antara kepadatan dan kesesakan memiliki hubungan yang erat karena kepadatan merupakan salah satu syarat yang dapat menimbulkan kesesakan, tetapi bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Kepadatan yang tinggi dapat mengakibatkan kesesakan pada individu ( Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982 ).

Contoh Kepadatan Dan Kesesakan :

Beberapa orang yang tinggal di dalam satu rumah dengan ruangan yang sempit, akan mengakibatkan suatu dampak negatif terjadi di dalamnya, berdasarkan penelitian mereka akan mengalami kepadatan dan kesesakan yang mengakibatkan ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu, peningkatan agresivitas pada anak-anak dan orang dewasa atau menjadi sangat menurun ( berdiam diri/murung ) bila kepadatan tinggi sekali ( high spatial density ). Juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama dan tolong menolong sesame anggota kelompok, dan terjadi penurunan ketekunan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan. Juga penurunan hasil kerja terutama pada pekerjaan yang menuntut hasil kerja yang kompleks.

Solusi Dari Kepadatan dan Kesesakan :

→ Menyesuaikan kondisi tempat tinggal dengan jumlah orang yang menghuni, tidak

memaksakan 1 rumah dihuni oleh terlalu banyak orang.

→ Bagi keluarga kurang mampu ( minim dari segi tempat tinggal ) hendaknya menjalankan

program pemerintah yaitu Keluarga Berencana ( KB ).

Sumber:

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab4-kepadatan_dan_kesesakan.pdf

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/arsitektur_psikologi_dan_masyarakat/bab5_tempat_tinggal_di_perkotaan_dalam_konteks_kepadatan.pdf

Senin, 28 Februari 2011

TUGAS MENARIK KESIMPULAN DARI SEBUAH ARTIKEL ( PSIKOLOGI LINGKUNGAN )

PENGARUH LINGKUNGAN FISIK ANAK JALANAN

Perilaku anak termasuk dalam hal kesehatan sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial serta nilai-nilai yang ada pada lingkungan mereka. Apabila anak berada pada lingkungan yang positif, maka perilaku yang terbentuk adalah perilaku yang positif pula, begitu pun sebaliknya.

Kondisi ini juga dapat terjadi pada anak jalanan. Semakin lama seorang anak hidup di jalanan maka semakin sulit untuk mengentasnya dari jalanan. Anak-anak tersebut telah melakukan perubahan pada sikap dan perilaku sebagai upayanya untuk menghadapi kekerasan di jalanan, eksploitasi, dan mengatasi bahaya. Di samping situasi buruk yang telah akrab dengan kehidupan anak jalanan tersebut, biasanya anak-anak tersebut telah menikmati kehidupannya di jalanan.

Survey yang dilakukan oleh Departemen Kesejahteraan Sosial pada tahun 1999 mengungkapkan bahwa mayoritas anak jalanan (60%) telah menjalani kehidupannya sebagai anak jalanan selama lebih dari 2-5 tahun, 17,4% telah hidup di jalanan kurang dari 2 tahun, 6,8% telah menjalani kehidupan di jalanan selama 6-9 tahun, dan bahkan 6,8% lainnya telah hidup di jalanan selama lebih dari 10 tahun.

Sebagian anak jalanan harus mempertahankan hidupnya dengan cara yang secara sosial kurang dan bahkan dianggap tidak dapat diterima. Hal ini karena tantangan yang dihadapi oleh anak jalanan pada umumnya memang berbeda dari kehidupan normatif yang ada di masyarakat.

Dalam banyak kasus, anak jalanan sering hidup dan berkembang di bawah tekanan dari stigma atau cap sebagai pengganggu ketertiban. Perilaku anak jalanan tersebut sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari stigma sosial dan keterasingannya dalam masyarakat. Tidak ada yang berpihak kepada anak-anak tersebut dan bahkan, sebenarnya, perilaku anak-anak tersebut mencerminkan perilaku masyarakat dalam memperlakukannya, serta harapan masyarakat terhadap perilakunya.

Salah satu bentuk perilaku anak jalanan yang kurang dapat diterima secara sosial adalah perilaku kekerasan atau tindakan agresifitas. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif.

Kehidupan jalanan yang keras dan liar membuat anak-anak jalanan sering memperoleh perlakuan kasar baik dari sesama anak jalanan maupun preman yang meminta uang dengan alasan keamanan, oleh karena itu anak jalanan membela dirinya sendiri dengan mengumpat, memaki, marah-marah, yang ditirunya dari orang lain atau sesama anak jalanan sendiri. Penilaian Masyarakat terhadap anak jalanan khususnya pengamen memandang dengan sebelah mata menyebabkan mereka merasa sebagai orang yang tidak berguna.

Sumber : http://elheedayat.blogspot.com/2010/01/pengaruh-lingkungan-fisik-anak-jalanan.html

KESIMPULAN :

- * Perilaku anak jalanan terpengaruh oleh kehidupan jalanan yang keras dan liar, keagresifan mereka semata-mata untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif.

- * Tantangan dalam kehidupan jalanan sangat mempengaruhi pembentukan perilaku mereka, seperti menghindari kekerasan yang sering terjadi, eksploitasi dan perlindungan terhadap bahaya.