Powered By Blogger

Search

Sabtu, 05 Juni 2010

Masalah Fisik Dan Psikis Anak Encopresis

Anak yang mengalami encopresis akan mengalami berbagai masalah emosi, seperti rendah diri, tak mau bersosialisasi atau menarik diri dari pergaulan. Ia juga akan merasa malu, takut dicemooh, atau khawatir dimarahi. Belum lagi secara fisik, anak mengalami nyeri di bagian perut karena berusaha menahan BAB.

Akhirnya, kotoran yang harusnya dibuang tetapi tertahan di dalam perut. Dalam beberapa kasus encopresis menyebabkan infeksi pada salurah kemih karena kebiasaan menahan BAB. Ada juga yang mengalami gangguan iritasi kulit atau jamur karena kebersihan tak terjaga. Kalau sudah begitu, anak juga akan kehilangan nafsu makan sehingga rentan sakit.

Penyebab Encopresis

Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab anak mengalami encopresis. Meski begitu, kalau mau dirunut ada beberapa faktor yang "mengontribusi" terjadinya encopresis yaitu:

1. Stres

Anak mengalami beban pikiran yang tak terselesaikan. Entah itu masalah di sekolah atau di rumah. Misalnya, masalah pelajaran yang terlalu berat atau lingkungan sekolah yang membuatnya tak nyaman. Permasalahan dengan orang tua, seperti merasa kurang diperhatikan atau kurang kasih sayang, juga dapat menjadi beban pikiran.

2. Kurang aktivitas fisik

Anak yang kurang melakukan aktivitas fisik berisiko mengalami encopresis. Sebaiknya di usia sekolah, dimana anak tengah bersemangat melakukan eksplorasi, ia diberi berbagai kegiatan. Tujuannya selain untuk mengantisipasi terjadinya encopresis, juga demi mengembangkan kemampuan dan keterampilannya.

3. Selalu menahan BAB

Ada juga beberapa anak yang selalu menahan BAB. Alasannya beragam. Misalnya, anak terlalu asyik melakukan suatu kegiatan sehingga enggan pergi ke toilet. Namun karena rangsangan untuk BAB begitu kuat dan tak bisa ditahan lagi, akhirnya terjadilah encopresis.

Sebagian anak menahan BAB karena tak terbiasa menggunakan sarana umum, terutama toilet yang kurang bersih. Misalnya, kamar mandi di sekolah yang ternyata bau dan kotor yang bertolak belakang dengan toilet di rumah yang terjaga kebersihannya.

Akhirnya dia memilih menahan BAB ketimbang harus memakai toilet sekolah. Saat si anak tak kuat lagi menahan, terjadilah encopresis. Syukur-syukur kalau ia berterus terang BAB di celana, karena biasanya mereka akan diam seribu basa. Baru ketahuan orang lain setelah tercium aromanya yang tak sedap.

4. Makanan/Minuman

Encopresis juga bisa dipicu oleh asupan makanan yang kurang baik yang menyebabkan. gangguan di saluran pencernaan. Misalnya sering menyantap makanan berlemak tinggi, berkadar gula tinggi atau junk food. Minuman yang mengandung banyak gula dan soda juga bisa mencetuskan terjadinya encopresis.

5. Trauma

Contohnya, akibat sembelit atau kesulitan mengeluarkan tinja karena keras. Lama-kelamaan anak menjadi trauma karena setiap kali BAB ia merasa sakit. Untuk menghindari rasa sakit itu, ia jadi sering menahan untuk tidak BAB.

6. Obat-obatan

Encopresis juga bisa terjadi karena efek obat-obatan yang bisa menyebabkan terhambatnya pengeluaran kotoran. Misalnya, obat batuk yang mengandung zat seperti codein. Encopresis terjadi karena obat tersebut tak cocok atau dipakai dalam jangka panjang.

7. Kegagalan toilet training

Pengajaran atau pelatihan buang air (toilet training) yang dilakukan dengan memaksa anak, cepat atau lambat akan menjadi tidak efektif. Begitu pula kalau misalnya anak yang BAB di celana lantas dimarahi orang tua.

Siapa Yang Mengalami Encopresis

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sekitar 1,5 persen anak usia SD mengalami encopresis. Lebih rinci lagi, 2 persen dari jumlah tersebut adalah anak laki-laki usia 8 tahun. Sementara anak perempuan usia 8 tahun yang mengalami encopresis hanya 0,7 persen. Masih menurut survei, anak laki-laki lebih sering mengalami encopresis sekitar 3 kali lipat dibandingkan anak perempuan. Kenapa begitu? Selidik punya selidik ternyata anak perempuan memang lebih cepat menerapkan toilet training dibandingkan anak laki-laki.

Yang perlu diketahui juga, kejadian encopresis tak berkaitan sama sekali dengan faktor genetik, status sosial, atau status ekonomi. Jadi, siapa pun bisa mengalaminya. Pada beberapa kasus, encopresis dialami oleh anak yang hiperaktif dan ADHD.

Encopresis

Encopresis adalah buang air besar tiba-tiba yang bukan disebabkan oleh penyakit atau kelainan fisik. Sekitar 17% pada usia 3 tahunan dan 1% pada usia 4 tahunan mengalami encopresis, seringkali disebabkan tidak mau belajar ke toilet. Meskipun begitu, sembelit kronis, yang merentangkan dinding usus besar dan mengurangi kesadaran anak tersebut untuk usus besar yang penuh, menghalangi kontrol otot, kadangkala menyebabkan encopresis.

Seorang dokter terlebih dulu berusaha untuk memastikan penyebabnya. Jika penyebabnya adalah sembelit, pencahar dianjurkan dan cara lain ditetapkan untuk memastikan buang air besar secara teratur. Setelah buang air besar teratur tercapai, kebocoran seringkali berhenti. Jika cara ini gagal, tes diagnosa kemungkinan dilakukan, seperti sinar-X pada perut dan kadang sebuah biopsi pada dinding anus, dimana contoh jaringan diambil dan diteliti di bawah sebuah mikroskop. Jika penyebab fisik ditemukan, hal itu seringkali bisa diobati. Pada kasus yang paling berat, konseling psikologi kemungkinan diperlukan untuk anak yang encopresis adalah hasil penolakan pada latihan bertoilet atau masalah prilaku yang lainnya.

Efek Gagap Bicara dan Solusi Pengobatan Gagap

Efek gagap secara fisik mungkin tidak bergitu berpengaruh namun secara psikologis orang gagap biasanya minder dan malu memiliki kekurangan dalam hal berbicara di depan umum. orang gagap mungkin akan menjadi pendiam dan hanya bicara ke orang-orang yang dekat saja. rasa tidak percaya diri selalu ada terus-menerus dan mungkin ada rasa putus asa jika penderita gagap dikucilkan dan selalu dicemohkan orang yang berada di sekitarnya.

Untuk mengobati gagap diperlukan tekat. kerja keras serta dukungan dari orang-orang dekat. si penderita harus dibantu untuk melatih kegegapannya hingga sembuh dengan menggunakan metode-metode yang mungkin ada. untuk mengatasi efek psikis tadi diperlukan bimbingan konseling atau psikolog.

Mengatasi Penyakit Gagap

Penyakit gagap atau kesulitan berbicara secara lancar seringkali dialami oleh anak-anak berusia sekitar 2-3 tahun bahkan sampai 8tahun.Umumnya gagap merupakan dari penyakit keturunan, dan seringkali menimpa anak laki-laki. terkadang gagap disebabkan faktor keadaan yang dihadapi anak-anak.

Mengatasi anak-anak yang gagap, janganlah mengoreksi sewaktu ia berbicara. biarkan ia berbicara dengan tenang selama beberapa bulan. Hentikan kebiasaan menyuruh anak yang gagap berbicara di depan umum/tamu. ajak dia bermain dengan menguranginya berbicara.bersikap;ah tenang saat beada di dekat anak tersebut dan dengarkan pembicaraannya dengan seksama dan jangan mencoba menyelanya.untuk membantu penyembuhan dapat dilakukan dengan cara; memberinya minum air putih yang telah di diamkan selama 1-2 hari di dalam kendi tanah liat,dan diusahakan jangan berhenti pada saat meminumnya sebanyak 1-1,5liter sekali minum setelah itu tarik nafas dalam-dalam. lakukan cara ini selama tiga minggu.

Hal Yang Dapat Dilakukan Orang Tua Untuk Anak Yang Gagap

Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menciptakan suatu suasana yang membantu bagi seorang anak:

  • Jangan menyuruh anak untuk selalu berbicara dengan tata bahasa yang benar. Biarkan anak untuk berbicara dengan nyaman dan menyenangkan.
  • Manfaatkan waktu makan bersama untuk melatih kelancaran berbicara anak. Hindari hal-hal lain yang mungkin mengganggu seperti televisi atau radio.
  • Jangan selalu mengkritik anak dengan ucapan seperti “pelan-pelan saja” atau semacamnya. Komentar semacam ini, walaupun diucapkan dengan niat baik, hanya akan membuat anak merasa semakin tertekan.
  • Ijinkan anak untuk berhenti berbicara jika ia merasa tidak nyaman.
  • Jangan menyuruh anak untuk mengulangi kata-katanya.
  • Jangan selalu menyuruh anak untuk berhati-hati dalam berbicara.
  • Ciptakan suasana yang tenang di rumah.
  • Berbicaralah dengan pelan dan jelas kepada anak.
  • Tataplah mata anak bila berbicara dengannya. Jangan melihat kearah lain dan jangan pula menunjukkan kekecewaan anda didepan anak.
  • Biarkan anak berbicara dan mengucapkan kalimatnya sampai selesai.
  • Yang paling penting adalah: seringlah berlatih! Jadilah contoh yang baik bagi anak dengan selalu berbicara dengan jelas.